ANALISIS PROSES BISNIS
1. Pengenalan Perusahaan
1. Pengenalan Perusahaan
1.1 Profil
Perusahaan
PT.
Virtus Technology Indonesia merupakan perusahan distributor TI di Indonesia
yang menyediakan berbagai jenis solusi infrastruktur TI. Perusahaan ini
didirikan pada tahun 2007 dan sekarang bagian dari CTI group. Virtus memberikan portofolio komprehensif solusi
infrastruktur TI produk serta layanan pendukung untuk sistem informasi
perusahaan. Menjadi anggota yang didukung sepenuhnya dari PT . Computrade Technology
International ( CTI ) Group of Companies , Virtus secara bertahap telah
mendapatkan reputasi yang luar biasa dalam keahlian
unpararelled dan ketepatan
waktu pendistribusian produk dan layanan di industri TI.
PT. Virtus berusaha untuk memastikan bahwa kami dapat meberikan pelayanan terbaik
kepada business partner dan user kami, responsive dan dapat diandalkan. PT. Virtus bekerja sama dengan
merek-merek teknologi terkemuka di dunia untuk merancang solusi terbaik dalam
menjawab berbagai tantangan yang dihadapai oleh suatu bisnis.
1.2 Visi
dan Misi
1.2.1
Visi Perusahaan
Menjadi
distributor IT terkemuka di Indonesia dengan integritas dan support terbaik
untuk mitra kami.
1.2.2
Misi Perusahaan
-
Memberikan
kemudahan dalam melakukan bisnis dan memiliki nilai yang riil sebagai
distributor yang tumbuh bersama dengan mitra.
-
Menjembatani
product principal kami, mitra bisnis, dan pelanggan secara efisien dan unik
dalam menawarkan solusi.
1.3 Struktur
Organisasi
1.4 Fungsi
Setiap Bagian Secara Keseluruhan
1.4.1
President Director
-
Menetapkan dan menjaga operasi agar
sesuai dengan tujuan dan sasaran perusahaan, baik dalam jangka pendek dan
jangka panjang
-
Mewakili perusahaan di dalam
hubungan dengan principle, business partner maupun end user.
-
Mengkaji ulang dan menganalisis
kemajuan dari keuangan perusahaan, serta membandingkan hasil nyata dengan
rencana-rencana dan metode yang telah ditetapkan.
-
Menerima laporan-laporan dan
rekomendasi dari direktur, manager-manager, dan team leader.
1.4.2
Director
-
Menetapkan dan menjaga operasi agar
sesuai dengan tujuan dan sasaran perusahaan, baik dalam jangka pendek dan
jangka panjang
-
Mewakili perusahaan di dalam
hubungan dengan principle, business partner maupun end user.
-
Mengkaji ulang dan menganalisis
kemajuan dari keuangan perusahaan, serta membandingkan hasil nyata dengan
rencana-rencana dan metode yang telah ditetapkan.
-
Menerima laporan-laporan dan
rekomendasi dari manager-manager, team leader, bahkan member yang laporannya
langsung ke direktur.
1.4.3
General Manager
-
Memantau kinerja team-team yang di-handle oleh nya agar tetap berjalan
sesuai dengan sasaran perusahaan serta berjalan sesuai dengan metode dan
ketetapan yang telah dibuat
-
Melakukan penanganan serta
memberikan solusi jika ada masalah di dalam team atau antar team
-
Membantu team yang memiliki kendala
dalam menjalankan jobdesk mereka
1.4.4
Manager
-
Memantau kinerja team-team yang
dihandle oleh nya agar tetap berjalan sesuai dengan sasaran perusahaan serta
berjalan sesuai dengan metode dan ketetapan yang telah dibuat
-
Melakukan penanganan serta
memberikan solusi jika ada masalah di dalam team atau antar team
-
Membantu team yang memiliki kendala
dalam menjalankan jobdesk mereka
1.4.5
Team Leader
-
Memantau kinerja team-team yang di-handle oleh nya agar tetap berjalan
sesuai dengan sasaran perusahaan serta berjalan sesuai dengan metode dan
ketetapan yang telah dibuat
-
Melakukan penanganan serta
memberikan solusi jika ada masalah di dalam team atau antar team
-
Membantu team yang memiliki kendala
dalam menjalankan jobdesk mereka
-
Menjadi penyalur informasi dari para
member ke atasan baik tentang kinerja mereka dan juga kendala yang sedang
dihadapi oleh member
1.4.6
Sales
-
Di perusahaan ini, sales terdiri
atas product manager, territory account
manager, dan channel account manager
/ channel relation. Yang memiliki jobdesk
masing-masing. Product manager adalah
seseorang yang mengetahui sebagian besar tentang produk yang di-handle masing-masing serta melakukan
negosiasi ke principle, pengorderan
barang ke principle, serta
mempromosikan produk yang di-handle
ke partner-partner agar mereka dapat
menjual produk tersebut ke end user.
Karena pada dasarnya, perusahaan ini merupakan distributor IT, maka seluruh
transaksi tidak dapat dilakukan dari end
user langsung.
-
Channel account manager
atau channel relation merupakan sales yang melakukan promosi
produk-produk yang dijual di perusahaan ini ke partner-partner yang mereka handle.
-
Territory account manager
merupakan sales yang melakukan
promosi ke end user yang di-handle mereka. Walaupun pada dasarnya
nantinya transaksi tidak dapat dilakukan langsung ke perusahaan, namun territory account manager akan melempar
ke partner yang dapat bekerjasama
menjalankan project yang telah di-create di user tersebut. Saling ketergantungan dan keterhubungan antara territory, channel dan product manager ini disebut triangle.
1.4.7
Presales
-
Engineer yang
dapat melakukan promosi layaknya seperti sales,
namun lebih ke teknikal dari setiap produk.
1.4.8
Engineer
-
Team teknikal yang melakukan
perencanaan produk (sizing), uji coba
produk (POC), serta melakukan implementasi dari produk-produk yang ditawarkan
dalam perusahaan ini.
2. Gambaran Proses Bisnis Berjalan
Pada bagian ini akan membahas proses
bisnis yang berjalan di dalam semua bagian yang ada di perusahaan PT. Virtus
Technology Indonesia
2.1 System
Definition
PT. Virtus Technology Indonesia merupakan perusahaan
distributor TI yang memasarkan productnya di seluruh Indonesia baik di instansi
pemerintahan, telko, enterprise, hospitality, education, dan lain-lain. Product
yang ditawarkan merupakan solusi TI yang dibutuhkan saat ini, contohnya storage, UTM, wireless, software OS dan
masih banyak yang lain.
Proses
yang berjalan secara umum :
Proses bisnis di perusahaan ini di awali dengan product
update atau pengenalan product yang ditawarkan oleh perusahaan ini. Jika suatu
instansi merasa membutuhkan product-product yang ada, maka dilanjutkan ke
perencanaan yang akan di bangun. Setelah itu, maka akan dilakukan sizing untuk
melihat dan menentukan tipe dan quantity yang dibutuhkan instansi tersebut
untuk memenuhi kebutuhan mereka serta sesuai dengan perencanaan yang telah
dirancang sebelumnya. Kemudian perusahaan ini akan mengirimkan penawaran yang
dibuat oleh team product kepada instansi tersebut. Namun karena transaksi tidak
dapat dilakukan secara langsung dari end user ke PT. Virtus maka akan ditunjuk
beberapa partner untuk dapat bekerja sama dalam menjalankan pengadaan ini. Maka
perusahaan ini akan memberikan penawaran ke end user yang sudah di rancang
serta di sizing. Harga yang diberikan PT. Virtus ke end user hanyalah price
info, untuk negosiasi dan lainnya akan dilakukan user ke partner yang ditunjuk.
Partner ini pun dapat ditunjuk oleh disti atau user memilih/membawa sendiri.
Kemudian pelanggan yang berminat akan memberikan purchase order. PO ini kemudian akan diteruskan oleh partner untuk
order ke distributor dalam hal ini PT. Virtus Technology Indonesia. Setelah PO
diterima oleh perusahaan ini, PO ini pun diproses dengan system yang ada di
perusahaan ini. Jika barang ready, barang siap di kirimkan ke partner dengan kesepakatan
term of payment yang sebelumnya harus
dibicarakan. Jika barangnya indent
maka distributor pun melakukan order ke principle.
Setelah barang ready, barang dikirimkan ke partner. Team sales akan membuat
permintaan pengiriman barang kepada gudang. Bagian gudang akan menyiapkan
barang beserta surat jalan untuk di kirimkan ke partner.
Setelah sales order untuk partner tersebut telah jatuh tempo
(sesuai dengan kesepakatan term of payment) maka bagian finance akan
mengeluarkan penagihan. Setelah partner tersebut membayar maka transaksi
tersebut selesai dan penjualan tersebut diakui sebagai performance dari sales yang mengerjakannya.
2. 2 Rich
Picture
2.
Identifikasi Permasalahan
Dalam melaksanakan proses yang ada pada perusahaan,
adakalanya akan ada permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu,
disini dipaparkan beberapa permasalahan yang saya identifikasi selama
melaksanakan jobdesk saya di perusahaan ini, antara lain :
1.
Adanya perebutan PIC antar team
dalam suatu projek
2. Adanya perbedaan quantity dari unit
yang tercatat dalam sistem dengan unit yang ada pada warehouse
3.
Ide Penyelesaian Masalah
Untuk permasalahan yang saya identifikasi di atas, berikut
ini beberapa solusi yang dapat saya berikan, antara lain :
1.
Sebenarnya system untuk
menanggulangi perebutan PIC ini telah dibuat dan telah berjalan lebih dari satu
tahun lebih belakangan ini. Namun belum digunakan secara maksimal, serta
menurut saya system ini pun masih dapat dimaksimalkan lagi. Saat ini
penanggulangan dari perebutan PIC ini adalah sales yang paling banyak
meng-update pipeline pada system tersebut tentang project yang sedang
dijalankan. Namun masih kurang melihat dari kualitas dari update yang
dilakukan. Menurut saya, untuk hal seperti ini, tidak dapat ditanggulangi
dengan sistem secara objektif. Namun harus dipertimbangkan dengan beberapa
sisi. Siapakah yang paling tau tentang project ini, siapa yang paling ambil
andil / yang paling banyak bekerja dalam project ini, dan pastinya harus
dipertimbangkan juga update mereka di pipeline sistem yang telah dibangun. Agar
seorang sales dapat lebih mempertanggungjawabkan dan bersemangat dalam
mengerjakan project yang ia pegang. Bukan hanya mengerjakan dilapangan namun
juga melaporkan seberapapun progress yang ada di project tersebut di pipeline.
Agar dapat dikoordinasikan dengan atasan serta team-team yang dapat membantu
agar project tersebut goal. Sehingga kesempatan menang di project tersebut
semakin besar.
2.
Untuk permasalahan kedua yang saya
identifikasi merupakan masalah yang menurut saya sangat kompleks dalam
penanggulangannya apalagi untuk barang-barang retail. Sebenarnya system di
perusahaan ini sudahlah baik, namun penggunaanyalah yang masih belum maksimal
oleh para member. Adanya perbedaan quantity yang tercatat pada sistem dengan
unit yang ada di warehouse memiliki banyak penyebab, misalnya adanya peminjaman
barang oleh customer seperti untuk melakukan uji coba ataupun back up unit,
yang kemudian dikembalikan ke warehouse oleh sales yang memberikan peminjaman
sebelumnya. Adakalanya setelah pengembalian peminjaman unit itu dilakukan, team
warehouse akan membuatkan stok ID yang baru untuk unit yang dikembalikan itu.
Namun kemungkinan lupa untuk menghapus stok ID yang lama sehingga stok tersebut
status nya tetap borrow. Kemudian stok ID yang dibuat baru tadi terjual
sehingga adanya ketidakjelasan atas status borrow tersebut. Yang jika dibiarkan
terus menggulung akan banyak status barang yang tidak jelas. Untuk itu saya
memiliki satu pemikiran untuk menambahkan satu tools untuk pengembalian barang
ke gudang sebagaimana ketika sales meminta persiapkan barang dikirim untuk
dipinjamkan. Tools ini dibuat related ke delivery request to borrow yang
sebelumnya dibuat yang kemudian related juga ke status stok dari item yang ada
dalam delivery request tersebut. Sehingga setelah sales membuat dokumen
tersebut, dan barang sudah ditarik dan tiba di warehouse, team warehouse
tinggal meng-approve permintaan dari sales tersebut. Setelah di approve status
barang akan ready dan jika terjadi perubahan stok ID, stok ID baru akan
langsung tertera pada dokumen yang ditarik ketika pembuatan dokumen penarikan
barang. Adapun perbedaan quantity antara sistem dengan fisik barang di
warehouse dapat pula terjadi akibat adanya user yang meminta pengiriman secara
cepat sedangkan dokumen (pemrosesan PO dalam system perusahaan ini) belum
selesai. Sehingga mengakibatkan seorang sales harus membuat kan delivery
request to borrow yang sebenarnya delivery tersebut untuk penjualan. Untuk
dapat melakukan pengakuan (delivery request to customer) setelah pemrosesan
sebenarnya selesai, maka sales tersebut harus meminta team gudang untuk membuat
status itu menjadi ready terlebih dahulu. Namun ada kalanya sales terkadang lupa
untuk membuat delivery request to customer tersebut setelah meminta stoknya di
ready kan. Oleh sebab itu, banyak jumlah barang yang tidak sesuai dalam system
dengan yang ada di warehouse. Menurut saya, hal ini juga dapat ditanggulangi
dengan tools yang sebelumnya saya jelaskan, dimana dalam case ini, ketika sales
akan membuat delivery request to customer, sales harus terlebih dahulu membuat
dokumen pengakuan bahwasanya barang tersebut akan di delivery to customer yang
sebenarnya sudah dikirimkan. Dari situ stok akan berubah menjadi ready kemudian
sales harus langsung membuat delivery to customer nya secara langsung untuk
menyelesaikan penggunaan tools tersebut. Jika tidak maka status akan kembali ke
borrow.
Gambar 3.2a DFD level 1
Gambar 3.2b DFD level
2





0 komentar:
Posting Komentar